Pelangi Senja
Sabtu, 17 Agustus 2013.
Kepada kamu, yg masih menjajah hati dan pikiranku..
Apa kabar kamu? Semoga tetap baik-baik saja seperti biasanya, seperti yg kuharapkan. Kabarku disini baik-baik saja, seperti biasanya, tanpa kamu; sendirian. Kabarku disini baik-baik saja, masih baik-baik saja dengan semua ketidakpedulianmu akan kepedulianku terhadapmu.
Kabarku disini baik-baik saja, sebaik hari ini, sebaik peringatan hari kemerdekaan negara kita, yg tercinta; yg masih belum merdeka dari tipuan dan permainan sistem pemerintahan yg dibuat para Idiot-Idiot yg duduk manis di balik meja bertuliskan wakil rakyat itu. Sebaik hari ini, hari yg dipenuhi keceriaan peringatan hari kemerdekaan, yg ditutup dengan senja merah jingga di ufuk barat sana, yg selalu ingin aku saksikan bersama kamu, kita bersama. Senja yg selalu kuharapkan kedatangannya, senja yg selalu kamu dambakan kepulangannya; kita berbeda.
Senja. Aku menyukai senja, apalagi saat pelangi ikut melengkung di atas semesta. Di setiap senja, aku selalu menemukanmu, selalu menangkap bayangan mu, lengkap dengan senyuman khasmu --manis, menyakitkan, tapi tetap aku suka.
Kamu persis seperti senja. Iya, aku menyukai senja, persis seperti aku menyukaimu. Kamu persis seperti senja, senja yg sejenak menghadirkan kebahagian, lalu hilang ditelan malam yg menyedihkan. Seperti kamu, yg sejenak menghadirkan kebahagian, lalu hilang, pergi meninggalkan kesedihan; meninggalkan aku sendirian. Tapi, aku tetap menyukainya.
Aku tetap menyukai senja, tetap menyukaimu; seperti aku menyukai pelangi. Iya, pelangi yg melengkung penuh warna setelah abu mendung awan hujan. Seperti kamu yg mewarnai kesedihan ku dengan berbagai warna kehidupan. Aku menyukai pelangi, pelangi yg hadir sejenak setelah hujan datang, dan pudar di terpa terik sang surya, lalu hilang meninggalkan sinar yg menyilaukan. Seperti kamu, yg datang sejenak di saat aku butuh, lalu pergi saat aku berharap, dan hilang meninggalkanku; dengan kepedihan.
Tapi, aku tetap menyukaimu, seperti aku menyukai senja; juga pelangi. Walau hanya sejenak memahagiakanku di kehidupan yg menyedihkan ini, di hari yg penuh indah ini; walau hanya sejenak.
"Bukannya dalam semesta kehidupan itu segala yg indah memang hanya sebentar saja."
Dari pengagummu, yg hatinya masih belum merdeka dari bayangmu; duhai pelangi senjaku...
Salam, Bakhtiar Rosadi

Comments
Post a Comment
Pembaca yang baik meninggalkan jejak. Komentar kalian turut serta membangun kelangsungan hidupnya blog ini..