Kebodohan dan Sebuah Penyesalan

  Kepada kamu,
  Yang sedang berbahagia,
  Tanpa menyadari kesedihanku.

Assalamu'alaikum warahmatullahi wa barakatuh.
   Kepadamu kukirimkan salam terindah, salam sejahtera para penghuni surga. Salam yg harumnya melebihi kasturi, sejuknya melebihi embun pagi. Salam hangat sehangat sinar mentari dhuha. Salam suci, sesuci air telaga kautsar. Salam penghormatan, kasih dan cinta yg tiada pernah pudar.




   Kutulis ini dengan lelehan airmata yg tak berhenti dari detik ke detik dalam hati. Kutulis ini saat hati tak lagi mampu menahan nestapa yg mendera-dera perihnya.
   Entah dari mana aku mulai dan menyusun kata-kata tuk mengungkapkan segala sedu sedan dan perasaan yg ada di dalam dada. Saat kau membaca ini, anggap aku ada di hadapanmu; menangisi kebodohanku.
  Kamu, yang sedang berbahagia,
   Aku ini orang yg paling bodoh dan malang di dunia. Menyimpan harapan pada orang yg jelas-jelas berharap agar aku tak berharap padanya sungguh tindakan yg paling bodoh. Dan aku harus menerima kepedihan dan kepahitan atas kebodohanku ini. Aku menyesal. Semestinya aku tak menyimpan harapan padamu.
   Apa yg kini bisa aku lakukan selain meratapi kebodohanku. Semestinya sejak pertama kali perasaan itu tumbuh, aku bersikap jantan dan berterus terang padamu. Bukan mencintaimu dalam diam selama berbulan-bulan, menahannya sendiri cinta itu hingga mendarahdaging sampai aku menemukan keberanianku. Dan ketika aku ingin mengungkapkannya, semuanya terlambat. Semesta memang sangat adil dalam hal kesempatan. Aku yg menyianyiakan kesempatan, dan aku juga yg harus menanggung semua yg terjadi kemudian. Bodoh!
  Kamu, yang sedang berbahagia,
   Kini orang bodoh ini sedang berada dalam tepian jurang penderitaannya. Jika ia tak membuang perasaannya itu, ia akan menderita lebih berat lagi. Tapi orang bodoh ini ternyata tak bisa membuang perasaannya. Baginya, membuangnya sama saja seperti memutuskan semua jaringan sel tubuhnya. Bagai telur di ujung tanduk.
   Apa tak ada jalan lagi bagi orang bodoh ini tuk dapatkan cintanya? Tuk keluar dari keperihan dan kepiluan hatinya?
  Kamu, yang sedang berbahagia,
   Maaf aku sampai hati menulis ini. Namun jika tidak, aku akan semakin menyesal atas kebodohanku. Bagiku, susah melupakan perasaan pada orang yg kita cinta, apalagi yg telah menyumsum dalam tulang. Sama susahnya seperti meningat seseorang yg belum pernah kita temui.
   Maaf jika aku salah menulis ini semua. Sudah lama aku selalu menanggung nestapa. Hatiku selalu kelam oleh penderitaan. Aku tak ingin mengganggumu dengan kenistaan kata-kataku yg tertoreh di sini. Jika ada yg bernuansa dosa, semoga Allah mengampuninya.
   Aku sudah siap jika seandainya aku terbakar oleh panasnya api cinta yg pernah membakar Laila dan Majnun. Biar aku jadi Majnun yg mati karna kobaran cintanya, namun aku tak berharap kau jadi Laila. Kau orang baik, orang baik selalu disertai Allah.
   Doakan Allah mengampuni diriku. Maafkan atas kelancanganku.
   Wassalamu'alaikum,
   Yang dirundung nestapa,
    Bakhtiar Rosadi.

Comments

Post a Comment

Pembaca yang baik meninggalkan jejak. Komentar kalian turut serta membangun kelangsungan hidupnya blog ini..

Popular posts from this blog

Magang Punya Kenangan

Mau Gini-Gini Aja?

Cowok Itu Beda-Beda