Agar Saya Tau Betapa Saya Menyayangimu
Rabu, 19 Maret 2014. 20:26 WIB.
Kepada kamu..
Hai! Apa kamu baca tulisan ini? Saya
harap kamu membacanya. Sebab saya menulis ini pun karna kamu. Saya menulis ini
karna perasaan yang membuncah dalam hati saat saya mengingat kamu. Sosok yang
mampu membuat saya tersenyum, sosok yang selalu membuat saya merasa nyaman.
Sosok yang menyangi saya dengan segala ketabahan, sosok yang saya sayangi
dengan sepenuh ketulusan. Sosok yang ingin saya lukiskan lewat tulisan yang
penuh diksi, sosok yang saya harap menilainya bukan hanya sebatas fiksi. Sosok
yang baru mengisi kekosongan dalam hati, sosok yang saya harap bisa hadir
sampai kelak nanti.
Ingat ga awal pertama kita mulai saling
mengenal? Saya ingat, tanpa kamu tanya pun saya akan terus mengingatnya.
Berawal dari rasa jenuh yang datang saat menjalani rutinitas sebagai pelajar
yang setiap waktu diteror oleh berbagai jenis tugas sekolah dan kian lama mampu
melumpuhkan jam tidurnya ini, saya putuskan untuk sejenak nge-refresh otak
lewat salah satu media sosial. Di beranda, saya nemu banyak curhatan, cacian,
makian, wejangan, dan doa-doa yang bertebaran dari orang-orang yang saya kenal.
Bosan, ga menarik, makin jenuh. Sampai akhirnya ga sengaja saya lihat satu akun
yang tampak asing saat itu. Iya, itu kamu. Entah memang beda, atau belum pernah
saya melihatnya, yang jelas saat itu saya penasaran dan iseng mengintip
kronologimu. Ada yang menarik dari kamu, ada yang beda dari kamu, saya
penasaran.
Tak lama dari itu, kamu mengirim chat
yang isinya ucapan terima kasih karna sudah ninggalin banyak ibu jari di semua
statusmu yang saya baca. Saya jawab seadanya, karna saat itu memang belum ada
perasaan yang lebih dari sekedar penasaran. Makin kesini, chat yang sederhana
itu makin bercabang, dari mulai basa-basi kenalan, membahas teman saya yang
juga temanmu, tentang sekolah kita masing-masing, sampai akhirnya rasa yang tak
asing mulai hadir. Saya nyaman berbincang denganmu, dari kenyamanan itu saya
suka sama kamu.
Perbincangan mulai ngebahas tentang
karakter masing-masing. Dan tau ga? Saya makin suka sama kamu. Sampai suatu
saat kita saling tukar nomor telepon. Kamu yang pertama ngirim pesan singkat
saat itu. Dan singkatnya pun, saya mulai jatuh hati sama kamu. Makin ke sini,
saya mulai nyari tau lebih dalam lagi tentang kamu. Dari mulai stalking twitter
dan facebook, sampai nanya ke temanmu yang juga teman saya itu. Saya makin tahu
tentang kamu, saya makin suka, saya makin tertarik, dan saya makin jatuh hati.
Satu yang hampir saya lupa, kalau “Saat
kita berani untuk jatuh hati kita juga harus berani untuk mengambil resiko
patah hati..” Iya. Saya pernah patah hati, bukan karna kamu, bukan
karna sikap kamu, tapi karna teman baikmu yang sangat dekat denganmu. Iya. Saya
cemburu, cemburu buta saat itu. Banyak yang bilang kalau cemburu itu tanda
sayang. Iya, saya mulai menyayangimu saat itu. Tapi, menurut saya cemburu itu
tanda kita tak yakin kalau pasangan kita sayang kepada kita. Iya, saya tak
yakin kalau kamu juga punya perasaan yang sama seperti perasaan saya. Di tambah
teman dekatmu itu, saya makin tak yakin. Sampai akhirnya kamu ngajak untuk
ketemuan buat ngobrol bareng. Semenjak kenal, kita memang belum pernah
berbicara empat mata langsung. Pernah ketemu, bahkan sampai berangkat ke
sekolah bareng, tapi belum pernah ngobrol. Saya ingat, akhir tahun 2013,
tanggal 29 Desember, hari minggu, hari dimana kita pertama kalinya ketemuan
untuk ngobrol bareng. Kamu cantik
banget, manis dengan senyuman yang khas itu. 4 jam lebih, kita habiskan
untuk jalan-jalan keliling toko buku, ngobrol bareng, sampai menonton kamu
bermain pump. Banyak yang kita bincangkan saat itu, salah satunya tentang
kegiatan sekolah, tentang ayah kamu, tentang mantan pacar masing-masing, sampai
tentang perasaan kita masing-masing. 4 jam pertemuan itu terasa singkat, berkat
senyumanmu yang hampir memberhentikan laju jantung saya. Setelah puas, akhirnya
kita memutuskan untuk pulang. Oh iya,
ingat ga? Saat menuju parkiran, ada percakapan kecil, tapi berkesan.
“Dia
bukan siapa-siapa kok, cuma temen aku. Jangan percaya, ya.” kata
kamu, sambil tersenyum.
“Iya gak apa-apa. Jangan hirauin juga tentang
mantan tiar ya. Lagian sekarang, udah ada yang baru kok.”
Ini kode.
“Ada
yang baru? Siapa emang?” kata kamu, malu-malu.
Memastikan. Tanpa di jawab pun pasti kamu tau. Tapi agar lebih pasti..
“Kalau
yang baru itu kamu, boleh?”
Kamu mengangguk, sambil memberi senyum
sipu. Saya ikut tersenyum. Ada yang bergetar dari dalam dada. Lalu kita berdua
pulang, membawa hati yang berbunga, dengan senyum yang saling kita simpukan.
Kita bahagia.
Kian hari, kita kian dekat. Ada hasrat
untuk memiliki kamu, tapi dikalahkan oleh wejangan yang bunyinya “Jangan terburu-buru. Tak usah berlari;
cukup berjalan. Kita bukan pelarian; kita adalah perjalanan.” serta “Semua yang dimulai dengan terlalu cepat, pasti
akan berakhir dengan cepat juga.” Lalu saya coba tahan, sampai salah satu
temanmu bilang kalau kamu tengah menunggu. Saya langsung ingat satu wejangan
yang lain; “ Jangan membuat wanita lama
menunggu. Wanita itu mudah bosan. Dan bila bosan, wanita akan pergi. Mencari
yang lebih pasti.” Dari situ, saya mulai menyusun strategi dan mencari
bekal dari mereka yang telah lama memakan asam-garam di bidang ini. Saya rasa
telah memiliki cukup persiapan. Oke, strategi dimulai. Tahap pertama, saya ajak
kamu bertemu lagi. Ada sedikit kendala disini. Rencana awal kita bertemu hari
sabtu malam minggu ketiga Januari, tapi karna acara keluarga besar kamu,
pertemuan itu diundur pada keesokan harinya. Tak apalah. Tahap selanjutnya;
sekitar pukul sepuluh pagi, setelah hujan reda menjadi mendung yang mengandung
gerimis, kita janjian untuk berangkat bersama. Tak seperti pertemuan pertama,
kamu mengendarai kendaraanmu sendiri, tapi menuju tempat yang sama, dengan
perasaan yang sama. Saya ingat apa yang dikatakan guru saya: Jangan langsung ke
intinya, basa-basi dulu. Oke, saya ikuti nasihat itu. Dimulai dari mengerjakan
tugas sekolahmu yang menumpuk itu, saya jatuh hati pada dengan cara tangan
kecilmu itu menulis. Perbincangan pun dibuka dengan bahasan tentang guru-guru
di sekolah kamu, lalu tentang adik kamu, lalu ngejalar menjadi bahasan-bahasan
lain. Basa-basi yang menarik. Pengunjung tempat itu mulai ramai, tapi sibuk
dengan urusannya masing-masing. Oke, kita mulai tahap terakhir. Kenyamanan yang
kamu sajikan lewat obrolan dan senyuman manismu itu hampir membuat saya lupa
akan niat awal pertemuan itu.
Setelah yakin kalau saat itulah saatnya, dengan lidah yang kelu, malu tersipu, saya beranikan untuk bertanya tentang perasaan kita selama ini, tentang apa yang ada di hati kita selama ini, tentang kedekatan kita selama ini, tentang kejelasan hubungan kita selama ini. Rintik gerimis hujan yang tak kunjung reda, games yang kamu mainkan di laptopmu demi menutupi kesal jaringan wi-fi tanpa akses internet karna hujan, serta ramai perbincangan orang-orang yang ada di sekeliling kita menjadi saksi bahwa kalimat “Ga bisa.. Ga bisa nolak maksudnya. Hehehe..” menjadikan saya sebagai Janaka muda yang jatuh dalam lembah kebahagian sang maha cinta..
Setelah yakin kalau saat itulah saatnya, dengan lidah yang kelu, malu tersipu, saya beranikan untuk bertanya tentang perasaan kita selama ini, tentang apa yang ada di hati kita selama ini, tentang kedekatan kita selama ini, tentang kejelasan hubungan kita selama ini. Rintik gerimis hujan yang tak kunjung reda, games yang kamu mainkan di laptopmu demi menutupi kesal jaringan wi-fi tanpa akses internet karna hujan, serta ramai perbincangan orang-orang yang ada di sekeliling kita menjadi saksi bahwa kalimat “Ga bisa.. Ga bisa nolak maksudnya. Hehehe..” menjadikan saya sebagai Janaka muda yang jatuh dalam lembah kebahagian sang maha cinta..
Tanggal 19 Januari, kita telah melangkah satu langkah. Kita bukan lagi hanya sebatas teman, kita lebih dari teman. Sejak tanggal 19 Januari, kerutinan yang selama ini saya jalani menjadi lebih ceria, bahagia, karna kamu. Sejak tanggal 19 Januari, abu mendung yang menyelimuti hati saya kini hilang digantikan cerahnya kisah yang akan saya jalani bersama kamu. Bukan lagi pelangi yang saya harapkan, kini saya mempunyai mentari yang memberikan warna cahayanya. Sejak tanggal 19 Januari, saya dan kamu telah berubah menjadi kita. Dua buah ganjil yang saling menggenapi. Sejak 19 Januari, Janaka muda ini telah menemukan Jatukramanya. Kini sudah dua bulan kita melangkah bersama. Kini sudah dua bulan kita bertukar kasih sayang satu sama lain. Ada beberapa yang saya ingin kamu ketahui, agar saya tau betapa saya menyayangimu.
Saya pernah mengagumimu dengan
sederhananya; seperti saya mengagumi hujan; seperti saat melihat senyuman
manismu di awal pertama kita jumpa. Saya pernah tersenyum dengan sederhananya; seperti ibu ketika
menyambut saya pulang; seperti saat membaca pesan-pesan singkat darimu. Saya
pernah tertawa dengan sederhananya; seperti adik membaca buku cerita dongeng
itu; seperti saat tau kamu ini sangat penakut. Saya pernah terbawa percakapan
diantara denting waktu dengan sederhananya; seperti senja yang selalu saya
nikmati bersama bayangan tentangmu; seperti saat mata kita bertemu dan mulut
kita memulai pembicaraan tentang hari yang kita lewati. Saya pernah merasakan
nyaman kehangatanmu dengan sederhananya; seperti anak dalam dekapan ibunya;
seperti saat membaca kalimat-kalimat sayangmu setiap malam. Saya pernah
merasakan rindu yang sulit diredam dan diredakan dengan sederhanya; seperti
anak rantau yang jauh dari kampung halaman; seperti saat empat minggu kita tak
bertemu. Saya pernah begitu menginginkanmu dengan sederhananya; seperti peluh
ayah demi mewujudkan cita-cita anaknya; seperti saat doa yang terlantunkan
setiap selesai beribadah. Saya mencintaimu dengan sederhananya; seperti
anak-anak berlari menerbangkan layang-layang; seperti dalang membersihkan debu
di sela wayang. Saya menyayangimu dengan sederhananya; seperti para penulis
membariskan kata; seperti syahdu pendongeng mengarang cerita.
Salam, Bakhtiar Rosadi.
NB:
Jika tulisan ini terbaca dengan sederhananya, mungkin bukan kamu orang saya
tuju; atau rasa itu belum menggenapi ruang terdalam kalbumu. Atau mungkin kamu
akan tersenyum setelah membaca ini semua. Tapi tau kah? Saya menulis ini karna
membaca senyuman kamu, selepas itu saya ikut tersenyum sendiri. Terima kasih
atas semua senyuman yang kamu bagi kepada saya selama ini, sengaja atau tidak.
Saya mencintai senyumanmu, seperti saya mencintaimu. Selamat tanggal 19 yang
kedua, Jatukrama-ku♥




Saat kita berani untuk jatuh hati kita juga harus berani untuk mengambil resiko patah hati
ReplyDeleteisinya sangat *jleb*
Yap. Dalam kehiduapan semua punya resiko. Makasih udah baca :D
DeleteSelamat tanggal jadi yang ke-2. Semoga masih bisa ngejaga senyumanya.
ReplyDeleteMakasih tam. Semoga cepat nemuin senyum baru bagi elu ya.. :D
DeleteKeren.
ReplyDeletePercakapan pas menuju parkiran buat bibir senyum sendiri hahaha goodluck bro :)
ReplyDeletehehe makasih mas :D
DeleteHehe makasih :)
ReplyDelete