Siapa Yang Idiot

Entah ada berapa banyak makhluk idiot yang memilih untuk menjadi pilihan. Meninggalkan semua yang telah dia dapatkan hanya demi menjadi pilihan untuk dipilih. Kenapa pada pengen jadi pilihan sih? Bukannya dengan lantang bang Iwan pernah berteriak “Aku bukan pilihan!” Lagian apa enaknya jadi pilihan? Mending kalo dipilih, lah kalo engga? Sakit hati loh entarnya, sakit jiwa juga nantinya..



Entah ada berapa banyak makhluk idiot yang berlomba-lomba memasang foto kebanggaannya memakai seragam partai pelangi. Kalau sedang musimnya, muka-muka mereka terpampang dengan jelas disetiap perempatan lampu merah, pojokan jalan, bahkan didalam angkot. Mending ganteng, kalo enggak?

Entah ada berapa banyak makhluk idiot yang saling mengadu janji demi gengsi. Memberi harapan yang lebih menarik dari pilihan lainnya kepada seluruh makhluk yang dipilih untuk memilih. Banyak dari antara mereka yang juga merupakan korban-korban ketidakpastian sebuah harapan berseru “Kami butuh bukti, bukan janji!”. Lalu dengan wajah senga, idiot berkerah putih rapih dengan potongan rambut klimis menjawab “Tenang. Saya berjanji akan memberikan bukti, bukan janji.”

Entah ada berapa banyak makhuk idiot yang mengidiotkan makhluk lain di sekitarnya. Membayar besar para pesohor buzzer untuk mempromosikan janji-janji manisnya. Membeli suara pemilih otoritarian seharga kaus oblong berlambangkan logo partai kebangganggannya dan uang yang tak seberapa dibanding uang yang dimakannya kelak bila ia terpilih.

Entah ada berapa banyak makhluk idiot yang tak mau diidiotkan. Mencari simpati warga dengan siasat-siasat basinya. Mendapatkan hati para parokial dengan perhatian musiman, juga bahan pangan yang dibagikan secara rela tapi masih berharap untuk membayarnya dengan suara atau melupakan tentangan akan masa lalunya. Membangun pencitraan yang baik dan berbanding dengan niatnya bila dipilih kelak.

Entah ada berapa banyak makhluk idiot yang rela melakukan apapun untuk bisa dipilih. Dari mulai meninggalkan jabatan yang tengah diembannya, dan memilih untuk dijadikan pilihan. Mengunjungi daerah bencana, makam keramat, hingga dukun sunat, mencari wibawa dengan cara singkat dan pikiran yang singkat.

Entah ada berapa banyak makhluk idiot yang menghambur-menghamburkan uang demi mendapat simpati para idiot lain. Mengadakan acara dangdutan yang berkedok kampanye massal,  mengarak-arakan para relawan yang ia bayar untuk memacetkan jalan raya yang penuh warna-warni bendera di sisi jalannya.

Entah ada berapa banyak makhluk cerdas yang membodohi para idiot pilihan ini. Menerima serangan fajar, namun memilih untuk tidak memilih. Mengkorupsi dana kampanye para caleg-caleg calon pengunjung gedung KPK. Mengagung-agungkan didepan, menginjak caci-maki dibelakang.

Entah ada berapa banyak makluk tak berdosa yang dirugikan oleh para idiot pilihan ini. Para pembayar pajak yang haknya berjalan raya dirampas para idiot juga pengikut idiotnya. Para pepohonan dan tiang-tiang listrik yang di tempeli dan di paku dengan poster-poster para idiot pilihan. Para anak kecil yang hak waktu bermainnya dirampas para orang tua idiotnya untuk mengikuti kampanye mengarak-arakkan para idiot pilihan. Para pejalan kaki, para penumpang angkutan umum, dan para makhluk lainnya yang matanya tersiksa oleh senyuman aspal, asli tapi palsu para idiot.

Entah ada berapa banyak makhluk idiot yang akhirnya dipilih. Alhamdulillaaah.. Alhamdulillah demokrasi masih berjalan sesuai duit. Alhamdulillah ga masuk rumah sakit jiwa. Alhamdulillah masih banyak pemilih idiot yang bisa ditipu oleh si idiot yang dipilih. Dan sekali lagi kita amini, Tuhan telah mati setelah ditusuk dari belakang oleh demokrasi yg dijunjung tinggi.

Entah ada berapa makhluk biasa yang sependapat dengan saya. Sepakat untuk tidak sepakat dengan idiot-logy demokrasi yang berjalan di negri yang lucu ini. Yang memilih, untuk tidak memilih para pilihan yang tak pantas dipilih, karna belum diizinkan untuk memilih. Bukannya kita punya kebebasan berpendapat yang masih masih dibatasi dengan “tapi” dan juga “asalkan”? Untuk semua orang yang berpendapat sama dengan saya, God bless you! Kita adalah terbaik dibalik semua kekurangan. Selamat memilih!




Salam, Bakhtiar Rosadi

*Terinspirasi dari tulisannya bang Lezzano dan keadaan pemilu saat ini.

Comments

  1. Haha....
    di Pilih Di Pilih ...

    Jangan Lupa Kunbal yaa gan :D
    http://hananoyami-post.blogspot.com/

    ReplyDelete

Post a Comment

Pembaca yang baik meninggalkan jejak. Komentar kalian turut serta membangun kelangsungan hidupnya blog ini..

Popular posts from this blog

Magang Punya Kenangan

Mau Gini-Gini Aja?

Cowok Itu Beda-Beda