Organisasi Itu Candu



Sekolah Itu Candu, adalah judul buku karya Roem Topatisamang yang terbit pada awal zaman milenial. Isi dari buku tersebut adalah pandangan penulis mengenai ajaran-ajaran di sekolah yang dinilai sudah terlalu jauh melenceng dari realitas. Terlalu banyak teori tanpa aksi.

Tak hanya di sekolah, kenyataannya kuliah bahkan organisasi kemahasiswaan dalam kampus pun demikian. Kuliah sama dengan sekolah, sama-sama tempat belajar, tempat seseorang berkembang, menjadi manusia yang benar-benar manusia, agar sesuai dengan peran dan fungsinya dalam tatanan kelompok masyarakat. Pun sama dengan organisasi kemahasiswaan, melalui serangkaian kegiatannya (yang khususnya bidang kaderisasi) bertujuan untuk membentuk dan mendidik anggota-anggota barunya menjadi pribadi yang kompeten, sesuai dengan nilai-nilai baik lingkungan umum maupun organisasinya. Lalu, jika organisasi itu sama seperti sekolah, apa itu candu juga? Mungkin bisa jadi.

Tujuan organisasi kemahasiswaan itu ada 3, dalam pandangan saya tentu saja. Esensi, kaderisasi, lalu eksistensi. Esensi adalah perihal bagaimana kita mencapai dan memenuhi tujuan yang tercantum pada visi misi organisasi tersebut (biasanya ada dalam AD/ART yang setiap tahun dibahas dalam Musyawarah Mahasiswa yang jarang mencapai kemufakatan). Kaderisasi adalah segala upaya menyiapkan dan membentuk kader-kader, anggota-anggota baru, yang alih-alih menjadi penerus tongkat kepengurusan organisasi tersebut. Lalu eksistensi, adalah hal yang berkaitan dengan cara membuat organisasi (biasanya orang-orang tertentu dalam bagiannya) menjadi terkenal, baik karna prestasi yang dicapai, banyak dan bergengsinya kegiatan, atau masalah-masalah baik sengaja atau tidak dibuat sehingga mendongkrak popularitas. Ketiga hal tersebut dituangkan dalam rencana program kerja, yang biasanya disusun diawal-awal kepengurusan terbentuk, waktu di mana anggota-anggota baru masih semangat-semangatnya. 

Pada dasarnya, suatu candu dapat membuat orang mabuk, lupa akan lingkungannya. Hal yang biasa ditemui di organisasi mahasiswa. Dinamika organitatika, memaklumkan pendoktrinan kepolosan mahasiswa melalui propaganda, menghegemoni sana sini, berbekal idealis atau kebanggaan historis. Lalu masa orientasi, media bagi senior unjuk gigi. Tampil berlagak maha segalanya, seolah dia paling lama jadi mahasiswa. Ada baiknya tentu saja, membagi pengalaman yang biasa aja, cukup ditambah hiperbola biar istimewa, bikin maba terpesona, syukur-syukur dapat cinta. Kaderisasi tentu saja jadi hal penting dari organisasi. Menggembleng mental, menanam nilai. Menyiapkan kader untuk menjadi loyalis, kadang chauvinis. 

Belum lagi disibukkan dengan sejumlah program kerja yang menumpuk. Mati-matian memperjuangkan perizinan, kelimpungan cari dana kegiatan, sampai-sampai harus mengorbankan waktu buat pacaran. Tak apa katanya, asal di lingkungan universitas dikenal sebagai macan. Merebut kembali kejayaan yang hilang ditelan zaman. Semua hanya buat dua tujuan utama, kaderisasi dan eksistensi.

Kenapa cuma dua? Apa semua yang sudah dilakukan itu tidak beresensi? Tentu ada, tapi bagi sebagian saja. Karna kaderisasi dan eksistensi, organisasi jadi mabuk. Lupa lingkungan, lupa tujuan, lupa esensi yang diharapkan. Esensi yang didapat hanya bagi sebagian kalangan, entah mereka yang memang memaknai semuanya, atau bagi mereka yang punya kepentingan saja. Sisanya kemana?

Mari berefkleksi. Selama ini ikut organisasi apa yang dicari? Sebagian banyak jawab cari kesibukan, cari pengalaman. Kesibukan macam apa yang diinginkan, kalau sudah berhadapan dengan program kerja malah susah ditemukan? Pengalaman macam apa yang dicari? Pengalaman organisasi buat memenuhi cv? Setelah masuk, semangat awal yang menggebu pun berubah jadi keharusan memenuhi program kerja buru-buru. Sekali lagi, apa yang sudah kamu dapat diorganisasi? Apa sudah terpenuhi semua Indikator yang tercantum dalam visi misi dengan perubahan yang dialami diri? Apa yang sudah berkembang selama ini?

Saya simpulkan, tidak sedikit yang kebingungan dengan esensi yang didapat dalam organisasi. Mungkin memang tidak boleh digeneralisir. Namun, kenyataannya demikian. Seharusnya padatnya program kerja, demi meningkatkan eksistensi diri (biasanya berkilah demi organisasi) tidak membuat anggota organisasi itu seakan tertutup tembok yang tebal, sempit dan subjektif.

Selama mahasiswa dikejar target eksistensi, organisasi terfokus pada kaderisasi, atau kuliah saja yang penting menguasai teori demi IPK tinggi, memang sepertinya benar kalian pecandu yang menyedihkan. Sama seperti saya hehehe.

Comments

Popular posts from this blog

Magang Punya Kenangan

Mau Gini-Gini Aja?

Cowok Itu Beda-Beda