Pekat
adalah deretan angka dalam satuan waktu yang muncul ketika saya mengklik tombol di smartphone saya. Waktu yang tepat untuk ibadah qiyamul lail, hanya saja tidak saya lakukan karena sedari tadi saya sama sekali belum terpejam meskipun sudah dari jam 10 berada di atas kasur. Hening malam ini mengandung angin bermuatan basah. Mungkin akibat sedari sore Bandung bagian barat disiram hujan yang cukup deras kurang lebih selama 3 jam. Suasana dingin, sunyi, memudahkan untuk dapat cepat terlelap. Namun tidak bagi saya yang mengalami gejala susah tidur atau orang lain istilahkan insomnia.
Banyaknya khayalan tentang masa
depan, tugas kuliah yang menumpuk, kangen seseorang, menonton anime,
kenangan-kenangan, ide yang keluar
adalah penyebab insomnia yang akhir-akhir ini menemani saya di kamar
petak kostan yang gak begitu luas ini. Termasuk menulis hal gak penting ini
yang menjadi alasan kenapa saya masih terjaga. Pernah sekali saya mengeluhkan perkara
susah tidur dan pusing yang sering
datang tiba-tiba ini pada salah satu teman kuliah. Perempuan cantik baik rupa
maupun sifatnya itu bilang “mungkin
sebaiknya kamu ke poliklinik bah, bukan ke saya. mau saya antar?”. Saya
menggelengkan kepala, tersenyum, dan membalas dalam hati “mungkin harusnya bukan insomnia yang menjadi teman sekamar saya, tapi
kamu puan.. bisa jadi saya tak perlu repot-repot ke poliklinik.”
Dini hari itu, saya keluar, duduk di kursi balkon kosan. Menatap kuat-kuat sejauh mata memandang kearah langit. Hitam. Pekat. Menangkap beberapa bintang yang malu-malu berkelip. Artinya cerah. Angkasa memberikan kode bagi saya untuk mengucap Allahu Akbar dan segala pujian bagi Sang Pencipta Gusti Allah Dewata Mulia Raya yang Maha Esa dan Agung. Kemudian saya diam, merenung. Mengulang kembali beberapa ingatan di kepala. Saya dengan segala kerendahan diri pernah makan menggunakan piring emas, mencaci-maki setiap orang yang tak saya sukai, menyia-nyiakan cinta seseorang, sengaja membiarkan kesempatan hilang dari genggaman, terlelap dengan segala macam keriyaan surga dunia yang keterlaluan, dan mengasihani sebagai hamba keras kepala atas semua kenikmatan yang dirasa kurang. Semua hal itu pernah saya alami. Atau singkatnya saya pernah berada dalam posisi yang sangat persetan.
Tetapi seiring rotasi bumi, hal-hal tersebut mengantarkan saya pada titik ini. Titik dimana saya dipaksa untuk menjadi dewasa dan bertanggung jawab akan segala hal. Titik dimana saya dituntut untuk senantiasa bersyukur. Titik dimana otak mulai mampu mengeliminasi apa-apa saja hal yang tak ada gunanya. Titik dimana hasrat keduniawian saya mengurang kecuali akan minat akan buku-buku, sastra, dan akademik –yang memang sudah menjadi kewajiban.
Saya pernah menjadi orang yang paling bebal dan bajingan. Saya pernah menghambur-hamburkan waktu. Namun, di titik ini, saya dituntut oleh hidup, untuk mengucap sumpah untuk dapat lebih dekat dengan Tuhan, berusaha menghindari hal-hal duniawi yang tak ada gunanya, bernazar untuk lebih baik dari sebelumnya, nawaitu memperbaiki segala hal yang sekiranya buruk. Semua itu demi satu tujuan. Membahagiakan mereka yang selalu membahagiakan saya, memperjuangkan kebahagiaan saya. Mereka yang sangat mempengaruhi saya.
Tidak.. Saya tidak bermaksud memberikan kesan bahwa saya sekarang telah berubah menjadi pribadi yang lebih alim, lebih cakap, lebih beragama. Saya masih seorang bedebah kulit hitam ngehek yang suka dengerin lirik dan bait sajak berengsek. Masih seorang yang dengan sadar dan seenak pantatnya menunda sembahyang seakan memiliki umur untuk hidup lebih panjang. Masih seorang yang doyan anime hentai atau bokep jepang tanpa sensor. Masih seorang yang suka berlama-lama main game Digimon World, Yu-Gi-Oh!, atau Harvestmoon di depan layar laptop. Masih seorang hamba keras kepala yang mulai mencoba untuk pension.
Yang ingin saya katakan adalah betapa berpengaruhnya waktu dan orang lain dalam kehidupan kita. Mengantarkan kita menuju titik yang orang sebut kedewasaan. Dewasa dalam pemikiran, meski tak sebanding dengan perbuatan. Tak apa, masih dalam tahap. Semuanya memiliki proses, bukan?
Saya klik lagi tombol pada smartphone saya. Menjelang shubuh ternyata.
Sudah waktunya kembali beinteraksi dengan Tuhan walau hanya 4x sujud saja dan
sehabis itu kembali (mencoba) tidur. Entah kenapa, tapi badan kerasa enteng dan
mata mudah terpejam kalau sudah melakukannya. Yah, gimana juga agama adalah
oksigen untuk paru-paru, petromax untuk hati. Sebuah sekat yang menjaga
kewarasan dan juga pedoman kehidupan. Suatu kedamaian. Kedamaian yang mutlak.
Absolut.
Dan pekat langit malam ini telah menyuguhkan saya kedamaian absolut lainnya..
Bakhtiar Rosadi
Bakhtiar Rosadi

Comments
Post a Comment
Pembaca yang baik meninggalkan jejak. Komentar kalian turut serta membangun kelangsungan hidupnya blog ini..