Gajah Saja Bisa Berenang



Belakangan ini kepala saya menjelma perempatan jalan yang saling silang di waktu lebaran atau liburan. Hal remeh seperti kaos kaki sebelah mana yang akan dipakai terlebih dahulu saat akan bepergian hingga hal-hal rumit seperti tugas proposal penelitian atau bahkan situasi drama-tragedi yang menghiasi dinamika politik negara. Semua berlaluan pelan-pelan, lalu berkelindan. Riuh. Padat. Meluap-ruap.

Sementara itu, ada sesuatu yang sepertinya semakin entah apa. Semacam ingatan tentang harapan dan mimpi-mimpi yang berusaha kau capai, namun semakin kuat kau kejar semakin hilang memudar. Dan sisa-sisanya itu membibitkan keinginan-keinginan baru yang memenuhi kepalamu. Seperti semuanya terlalu sesak dan satu-satunya yang kau ingin lakukan adalah membelah tengkorak. Memasukkan otakmu ke dalam bak plastik air rendaman deterjen, agar yang tak penting itu luntur.

Belakangan, banyak orang-orang baru yang entah harus disyukuri atau tidak, menyumbang hal-hal yang menyenangkan sekaligus megayangkan. Memang tidak ada gunanya menyesali waktu-waktu yang jatuh. Ada banyak lini yang dapat dijelajahi sebanyak kesempatan beroleh benci.  Hal-hal baru ternyata memang mengurangi sendu yang membatu, mengalihkan satu persatu pikiran yang tak perlu. Meski mengurangi tempat untuk yang telah dilalui, karena diri tak mampu memuai. Meski secara fisik mungkin mudah.

Dan pada titik tertentu, semua yang ada dalam kepala saya akan bersatu. Saya akan merasa seperti pemuja laut yang tenggelam dalam pelukan pujaannya, megap-megap nafas menguap. Sebab itu yang diinginkan laut, menyesakkan hingga maut. Tapi, gajah saja bisa berenang, bukan?

Comments

Popular posts from this blog

Magang Punya Kenangan

Mau Gini-Gini Aja?

Cowok Itu Beda-Beda